Sunday, August 2, 2009

Cycling from Sorowako to Lampia

Sebenarnya sih diriku dah lama banget absent sepedaan jarak jauh. Ide untuk sepedaan jarak jauh rute Sorowako - Malili or Lampia (60 km) terbersit saat perjalanan dinas empat hari yang lalu menuju Balantang, Malili. Langsung deh SMS partner sepedaan ku ngasih tahu ide ini. Untungnya langsung di tanggepin positif dan di follow up dengan mengundang dua rekan yang lain via email.

H - 1 menjelang pelaksanaan, dua partner ngundurin diri. Nanya lagi nih ke partner setia lanjut atau nggak.. untungnya tetap dilanjutkan walo dah dapet wanti-wanti supaya nambah orang lagi buat nemenin. Planning segera di susun. Tim yang akan menjemput di Lampia sudah siap.


29 Juli 2009, 06.15 am. Partner sepedaan dah tiba di kamarku. Cek ricek kondisi sepeda masing-masing dulu nih. Yang paling penting di periksa ban dan rantainya. Semuanya aman. 10 menit kemudian kami berdua meluncur menembus pagi. Ketemu tim lain dengan tujuan Asuli (sekitar 20 km dari Sorowako) dan mengajak kami untuk gabung dengan mereka, cuma karena kami berdua peserta "Kelas Wisata (stop kapanpun kami mau dan gak punya target berapa jam yang harus ditempuh)" tawaran itu kami tolak... maklum tim mereka "Kelas Buldozer (oponent dari kelas wisata)". Partner ku yang satu ini paling jago kalo soal pendakian, diriku dah stop 2 kali di perjalanan menuju Plant Site (8 km dari Sorowako), dia masih lanjut terus sampai pit stop pertama (Plant Site). Tiba di pit stop pertama, istirahat bentar ngumpulin tenaga menuju pit stop kedua (Enggano, sekitar 13 km dari sorowako). Untuk mencapai pit stop ini sih bukan masalah besar, banyak turunan di banding pendakian. Nah, kalo turunan adalah track favorit. Bisa ngebut sampai 60 km/jam tanpa ngerem :). Di pit stop kedua cuma sebentar aja untuk cek lagi kondisi rantai dan ban. Aman. Lanjut ke pit stop ketiga (Balambano, sekitar 35 km dari sorowako). Emang lebih jauh sih dibanding pit stop sebelumnya karena banyak turunan yang asik banget.

Eh tapi ada spot bagus nih... foto-foto dulu ah menjelang penurunan Wasuponda. Tripodnya pake sadel sepeda. Waktu menunjukkan pukul 8.14 am.

Dalam perjalanan menuju pit stop ketiga, tiba-tiba ada suara aneh dari rantai sepedaku mendekati Larona. Ya sudah teriak manggil partner ku untuk berhenti dulu. Eh ternyata bener, ada yang kudu di perbaiki. Walopun kami berdua perempuan, bisa lah ngutak ngutik sepeda he he he.... Cuma butuh 10 menit aja masalah selesai. Lanjuuuuttt... Jam 9.31 am tiba di PLTA Balambano. Selain jadi pit stop, sudah pasti kudu foto-foto dulu dong.. untung ada Security yang berbaik hati jadi fotographer dadakan hi hi hi hi... makasih ya, Pak.

Puas bernarsis ria di depan PLTA Balambano, lanjut ke pit stop keempat di KM 39. Pendakiannya lebih banyak. Kalo dah gini, aku lebih milih jalan belakangan. Karena partner ku cuma berhenti dua kali, aku berhenti 5 kali ha ha ha.. Panas sudah mulai membakar tubuh. Fiuhhhh... panassss!!!!!!!!!!!!!!
Jam 9.55 tiba di pit stop keempat. Namanya lagi ada pengerjaan pemindahan jalan, debu dari kendaraan lumayan buat udara sedikit terkotori. Tapi kalo urusan foto-foto tetap gak ketinggalan :).

Karena ini termasuk area yang sulit, pit stop berikut nya di KM 40..pendek banget ya.. habis nya panas matahari sudah mulai menggigit nih badan..mana debu nya gak ketulungan. Walo gitu, tetap harus ada dokumetasinya.


Pit stop berikutnya PLTA Karebbe (42 KM dari Sorowako). Nah, kalo partner ku cuma berhenti 2 kali, aku berhenti 8 kali untuk mencapai pit stop. Air minum pun sudah semakin menipis persediaannya. Masih ada sekitar 3 pendakian panjang yang harus di lewati. Hmm... sudah mulai putus asa, lanjut ato nggak ya.. tapi kalo mo berhenti juga gak bisa ngasih tahu tim penjemput, karena di area tersebut gak ada sinyal. Lanjut aja deh, perlahan tapi pasti. Air minum di irit supaya cukup sampai di pit stop kelima. Fokuskan pikiran untuk sampai puncak. Karena setelah melewati puncak, turunan tajam sudah menanti. Sekitar 1 KM sebelum Karebbe ada spot yang bagus untuk foto-foto. Nama lokasi nya kurang tahu, pokoknya bagus lah.

Jam 10.58 am akhirnya tiba di PLTA Karebbe.


Pit stop terakhir adalah finish point yaitu Lampia (60 km dari Sorowako). Jalan menuju ke sana relatif penurunan. Pendakiannya gak se terjal di KM 39, jalan nya relatif datar. Jalan menuju Lampia adalah jalan antar propinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Jembatan Karebbe yang menyeberangi Sungai Malili, menjadi penghubungnya.



Hanya butuh waktu 1 jam saja untuk sampai di pit stop terakhir. Alhamdulillah, tiba juga di finish point jam 12.15 am.

Total lama perjalanan yang kami tempuh 6 jam perjalanan. Rasa lelah, panas dan dehidrasi langsung hilang. Two thumbs buat Mbak Ririn sebagai partner sepeedaanku. Terima kasih buat kak Herni yang sudah traktir aku makan sea food di Aroma Laut Lampia. Ditunggu tantangan berikut nya :). Buat tim penjemput (Kak Boni dan Kicky), tararenkyu ya... tanpa kalian, ku gak bisa pulang ke Sorowako. Buat yang berminat mencoba rute ini lagi, gak usah ngajak diriku ya. Dah cukup sekali aja dech.

Sunday, June 14, 2009

Manado - Gorontalo - Poso - Sorowako

Terinspirasi dengan catatan perjalanan Mas Gunara touring dari Sorowako - Manado - Sorowako, cita-cita itu pun kesampaian. Bersama dengan tim dari LIPI (Peter Hehanussa), Windsor University (Doug Haffner & James Valliant), dan Paul Hamilton perjalanan darat Manado - Sorowako pun dimulai.

8 Juni 2009, Kami bertemu di bandara Hasanuddin Makassar untuk bersama-sama berangkat menuju Manado. Sungguh sangat menyenangkan bertemu dengan teman-teman lama. Dengan Garuda GIA 602, kami berangkat tepat pada waktunya. Tiba di Manado, kami sudah di jemput oleh 2 supir (Tommi and Sufyan) langsung menuju Danau Tondano. Di Tondano kami menginap satu malam di resort. Peralatan untuk sampling esok hari pun disiapkan. Malam pun menggantikan siang. Kami makan malam di RM. Danau Tondano, sekitar 10 menit dari hotel. Sudah pasti menu makannya adalah ikan dan udang.

9 Juni 2009, Kami melakukan sampling di Danau Tondano. Menurut sudut pandang ilmiah, Danau ini terlalu kaya akan unsur hara, sehingga tidak mengherankan banyak ditemui enceng gondok, keong mas dan tanaman pengganggu lainnya. Kalau pemerintah setempat tidak segera mengambil tindakan pengendalian, bisa jadi lama-lama danau ini akan hilang. Lokasi paling dalam yang terbaca hanya kisaran 20 meter. Ikan endemik nya pun sudah sangat jarang untuk di temukan. Selesai sampling, perjalanan di lanjutkan menuju Gorontalo. Pemandangan alam yang indah kembali menghibur mata. Sayangnya gak sempat mampir ke Bukit Kasih (Di bukit ini ada 5 rumah ibadah yang di bangun sebagai simbol keragaman umat beragama di Sulawesi Utara). Kendaraan yang paling menarik perhatian selama perjalanan adalah BENTOR (becak motor). Berbeda dengan bentor yang ada di Medan, Bentor di Sulawesi Utara dilengkapi dengan sound system. Jadi sepanjang jalan mengantar penumpangnya, musik pun turut mengalun... dan gak tanggung-tanggung kencang banget. Setelah menempuh 8 jam perjalanan, kami tiba di Gorontalo dan menginap di Hotel Yulia. Sangat menyenangkan bisa bertemu dengan teman SMA, dan ngobrol sampai jam 12 malam.

10 Juni 2009, Sampling di Danau Limboto pun di mulai. Kondisi danau berkedalaman terdalam 6 meter ini tidak jauh berbeda dengan Danau Tondano. Hampir seluruh permukaan danau telah ditutupi dengan enceng gondok dan kaya dengan unsur hara. Selesai sampling di danau ini, perjalanan dilanjutkan menuju Tentena. Singgah makan siang di Pohwatu, dengan menu ikan bakar yang yummmiiii banget. Ikan nya bener-bener masih segar. Perjalanan masih panjang menuju Tentena. Akhirnya diputuskan untuk menginap di Kota Raya, Sulawesi Tengah. Lumayan sulit mencari penginapan, karena kedatangan kami bertepatan dengan kedatangan para pedagang yang akan berjualan pada esok hari. Akhirnya dapet juga penginapan yang murah meriah. Namanya Ojo Lali. Ternyata di kota ini memang banyak sekali pendatang dari Jawa.

11 Juni 2009, Perjalanan menuju Tentena dilanjutkan. Keindahan Teluk Tomini sepanjang jalan benar-benar tiada taranya mengiringi kelokan jalan yang bertubi-tubi. Saat melewati kota Poso, sisa kerusuhan beberapa tahun lalu masih terlihat. Tiba di Tentena waktu menunjukkan pukul 6 sore. Kami menginap tepat di tepi Danau Poso (Hotel Intim Danau Poso). Rasa lelah dan kantuk membawa kami ke peraduan alam mimpi dengan begitu cepat.

12 Juni 2009. Hari ini sampling terakhir dan menjadi penutup perjalanan. Danau Poso dengan kedalaman 400 meter, menyajikan keindahan yang hampir sama dengan Danau Matano. Danau ini lebih luas. Ikan endemik nya adalah Sukini (sejenis belut yang bertelur di laut dan tumbuh dewasa di danau Poso). Angin kencang dan ombak yang cukup keras membawa kami ke titik-titik pengambilan sample. Di titik kedua, kapal mengalami kerusakan mesin. Akhir nya harus terombang-ambing di atas danau selama 2 jama sampai pertolongan tiba. Godaan untuk berenang di titik terdalam cukup besar, tetapi mengingat kondisi badan yang sudah sangat lelah, niat ini pun harus diurungkan. Hanya bisa gigit jari melihat rekan-rekan yang lain asyik berenang. Setelah 2 jam, kapal penolong pun datang. Kami pun berpindah kapal dan sampling di titik terakhir di lanjutkan dan berakhir di Pendolo. Setelah mengisi perut dengan ayam goreng dan sup panas, perjalanan di lanjutkan menuju Sorowako. Tikungan tajam dan pendek pun kembali menyambut. Beberapa bagian jalan setelah melewati perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan pun ada yang rusak dan dalam perbaikan. Malam pun tiba. Tidak banyak yang bisa di lihat sepanjang jalan. Waktu tempuh dari Pendolo ke Sorowako selama 4 jam akhirnya terselesaikan juga. Kami tiba dengan selamat dan rasa penat luar biasa plus masuk angin :).



Note :
* Gak banyak mengabadikan keindahan alam karena tidak ada kesempatan untuk berhenti selama perjalanan dari satu kota menuju kota lain.

* Setiap memesan makanan di semua tempat makan yang disinggahi, perlu kesabaran menunggu sekitar 1 jam sebelum makanan yang di pesan selesai dihidangkan. Jadi, harus sabar dan ngemil atau killing time dengan ngobrol ngalur ngidul.

* Telkomsel ada dimana-mana dan sinyal baik. Jadi lebih baik bawalah kartu telkomsel selama perjalanan.