Monday, October 18, 2010

Cikandang, One of The Best White Water Rafting in West Java

Road to Garut, October 15, 2010 Jumat malam tepat jam 11 malam, 4 Lady Rafter (Saya, Uwie, Tika dan Fuah) dan Om ganteng plus Bang Kikin sebagai driver yang okeh banget dengan Xenia merah meninggalkan Terminal Kampung Rambutan menuju Garut untuk berarung jeram di Sungai Cikandang. Sehari sebelum nya dapat info kalau level air nya naik setelah dihajar bandang. Wuiiihhh…. Dalam hati ini dah seneng banget campur ketar-ketir juga sih :).

16 Oktober 2010, 02.30 a.m, tiba di Kota Garut disambut hujan dan petir yang menggelegar di pagi buta. Di Uniga (Universitas Garut) kami beristirahat di Gerhana Basecamp dan berkenalan dengan Abah yang akan menemani kami berarung jeram. Namanya juga backpacker… tidur di lantai jadi…di bangku kayu hayuuuk…tidur di sofa juga oke :).. yang penting bisa meluruskan badan lah barang 2 jam –an.


Preparation…
Sayup-sayup terdengar suara azan berkumandang di tengah lelapnya tidur… waktu sudah menunjukkan pukul 04.20 pagi. Harus segera bersiap-siap menuju lokasi pengarungan. Jam 5 tepat, kami meninggalkan base camp bersama tim Abah yang berperan sebagai tim rescue. Lama perjalanan dari Garut ke starting point sekitar 2 jam. Kesempatan buat tidur lagi lebih kuat dibandingkan menikmati indahnya pemandangan di pagi hari. Apalagi nih badan dah mulai kedinginan dan perut sudah minta untuk diisi :). Untung lah, satu jam kemudian kami berhenti di warung makan. Garut semakin dingin dan gerimis tak kunjung reda. Berharap hal yang sama terjadi di hulu sungai Cikandang. Setelah badan mulai hangat perjalanan di lanjutkan menuju starting point. Tetep aja nih mata masih terasa berat, jadi ngelanjutin tidur lagi dah. Kebetulan Fuah yang duduk di sebelahku juga pelor banget :D.

 

Starting Point
Anak Sungai Cikandang (S: 728’13.3”; E 10740’18.7”) adalah starting pointnya. Wuiiihhh… keren banget dah pemandangannya.

Dan gulungan air yang terlihat dari atas jembatan memanggil – manggil kami untuk segera mengarung di atas nya.
 

Gerimis masih turun dengan lembutnya. Tim rescue tiba sekitar 15 menit kemudian.

 Perahu pun di turunkan dari atas jembatan. Dan cuaca pun langsung berubah cerah. Pemandangan semakin indah dengan birunya langit. Kami pun segera mengenakan peralatan rafting dan pemanasan yang di pimpin Kang Dadan.



Let’s Go…

Sekitar jam 9 Pagi, pengarungan di mulai... eh..baru juga meluncur udah nyangkut di antara bebatuan. Ini sih karena kami nggak kompak ngedayungnya. Setelah lewat, eh nyangkut lagi… wah kejadian dah kayak waktu ngarung di Ciberang… nah di jeram berikutnya baru dah mulai mulus di lewati.



Tapi jeram-jeram disini tidak bisa di anggap enteng. Terus terang saya nggak tahu jeram-jeram apa saja yang kami lewati. Karena Abah juga sudah cukup repot sebagai kapten merangkap skipper di perahu kami sehingga tidak ada kesempatan untuk bertanya jeram apa saja yang telah dilewati. Tim rescue juga sudah jalan terlebih dahulu. Sekitar 15 menit pengarungan, jeram yang lumayan besar (sekitar grade 3) siap menanti. Di sini dengan perlahan tapi pasti, Uwie terlontar dari perahu karet. Hmmm… kayaknya hari ini bakal ada beberapa kejadian terlempar dari perahu nih. Hari itu ternyata level air masih di kategorikan normal. Dan menurut kang Dadan, grade nya 3 – 4+. Posisi kami selalu berubah setiap saat sambil kapal berjalan. Kadang saya duduk di depan.. kadang duduk di tengah. Semuanya pengen berada di posisi paling depan. Karena sensasi terindah saat melewati jeram ada di posisi terdepan. Dan jeram nya berturut-turut. Dayung nggak kompak berarti nyangkut di bebatuan atau perahu melipir ke pinggir. Tawa, canda dan saling mengolok-olok selalu terjadi.. tapi saat melewati jeram, semuanya serius dan konsentrasi penuh. Satu jam setelah mengarung, kami beristirahat sejenak di bawah pohon yang lumayan rindang sambil menikmati makanan ringan seadanya. Kata tim nya Abah, jeram-jeram berikutnya lebih menantang. Benar saja… setelah beristirahat, tak lama kami bertemu dengan jeram yang lumayan besar (sekitar 3 +). Dengan suksesnya Tika terlempar lagi dari perahu. Kali ini sih karena beliaunya kurang konsentrasi. Lebih mikirin keselamatan kamera nya dibandingkan konsentrasi ngarung sih…Setelah terseret sekitar 100 meter baru bisa ditolong oleh tim rescue. Arus air di bawah permukaan sungai cukup kencang, apalagi batu-batunya licin oleh lumut yang melekat.


30 menit setelah kembali mengarung, Saya, Tika (rekor nih bisa dua kali terlempar) dan si Om pun terlempar dengan suksesnya dari perahu. Jeram yang dilewati sekitar grade3+ dan melewati batu besar. Saya nggak gitu inget kejadiannya bagaimana bisa terlempar dari kapal. Yang pasti saat mendayung berada di posisi kiri kapal, begitu terlempar sempat berada di bawah kapal beberapa detik dan detik berikutnya sudah berada di sebelah kanan kapal sambil berpegangan pada tali tapi segera di lepas karena bagian kanan perahu akan menghantam tebing. Kejadian yang begitu cepat terasa lamaaaa banget. Si Om malah sempat blunder lebih lama di bawah kapal. Kunci untuk selamat hanya satu. Nggak boleh panik dan pasrah :). Tim rescue pun sigap. Saya dan Tika segera ditarik ke atas perahu rescue. Waktu dah di atas perahu pun juga, kesadaran belum pulih 100%. Masih kayak orang bego gitu dah.. Baru sadar setelah diperintah salah satu tim rescue untuk duduk di sisi kapal dan segera mengayuh karena akan melewati jeram lagi. Setelah melewati jeram, baru tahu dah kalo sekarang posisinya satu perahu dengan tim rescue. Si Om sih dah sukses di tolong di perahu nya Abah dan teman-teman. 30 menit kemudian, kami beristirahat lagi. Dan kali ini menjajal keberanian lompat dari jembatan gantung. Untungnya gak setinggi jembatan gantung yang ada di Sungai Ciberang. Sayang peminatnya Cuma saya dan salah satu skipper termuda.


Finish Point, October 16, 2010
Matahari sudah semakin tinggi. Kulit sudah mulai terbakar. Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Keenakan berada di perahu rescue, saya dan Tika memutuskan tetap berada di perahu rescue. Nggak usah mendayung dengan sekuat tenaga :). Sisa perjalanan menuju finish point sudah tidak menjumpai jeram-jeram yang sulit. Beberapa wave kecil mengiringi sampai muara sungai Cikandang. Di kejauhan tampak kilauan biru laut pantai selatan. Tepat jam ½ 1 siang, pengarungan berakhir di bawah jembatan Cijayana (S: 656’54.2”; E 10745’25.9”) kalau dilihat di GPS, kami sudah menempuh sekitar 35 km dengan waktu pengarungan 4 jam (termasuk istirahat 2 kali). Secara keseluruhan ngarung di Cikandang diacungin 2 jempol dan mantap banget dah. Apalagi sudah sukses melempar kami berempat dari atas perahu pada saat melewati beberapa jeram. Terima kasih buat tim nya Abah yang sudah menemani kami; buat Si Om yang udah baik banget nyiapin segala sesuatunya apalagi para lady rafter banyak banget maunya; buat Kang Kikin yang bisa menina bobokan kami selama perjalanan menuju Garut dan kembali ke Jakarta dengan selamat; dan buat para Lady Rafter, walo pada nggak fit tetap semangat berarung jeram. Semoga impian untuk berarung jeram di Sungai Saddan awal tahun depan dapat terwujud :). Sampai ketemu di pengarungan selanjutnya.

Foto-foto lengkap silahkan dilihat di Cikandang in Pictures dan Video Cikandang




   SSDA


- Lili Nuria -







Monday, June 28, 2010

Road Trip : Pekalen - Bromo

Satu hari setelah bermalam di Surabaya (Da Rifi Hostel), saya dan beberapa teman baru bertemu di tempat parkir Lotto Supermarket (dulunya Makro). Kali ini trip perjalanan di pandu oleh DAL Adventure. Jumlah peserta nya 7 orang.Tour leader kami orangnya kocak dan asik, dan gak disangka ternyata Febry dan Elyudien ini adalah teman SMA rekan kerja saya. Setelah berkenalan dengan peserta yang lain, kami pun menuju Pekalen. Waktu tempuh dari Surabaya menuju Pekalen adalah 3 jam. Arung jeram di Pekalen patut untuk dicoba. Bukan karena sisi gradenya yang terhitung kecil (2 – 3) akan tetapi di karenakan keunikan air terjun dan kelelawar yang jumlah nya sangat banyak. Sehingga salah satu air terjun tersebut dinamakan Air Terjun Kelelawar. (http://www.facebook.com/home.php?sk=lf#!/album.php?aid=2053482&id=1052373573&ref=mf)

Tiba di Pekalen Atas, kami menuju NOARS (salah satu provider arung jeram). Ukuran jalannya nya hanya pas untuk satu mobil saja. Karena sudah masuk musim liburan, setibanya di NOARS, sudah banyak mobil parkir di sana. Wow… rame sekali. Kami pun segera berganti pakaian dan mengisi perut dengan hidangan makan siang yang sudah disiapkan serta memilih peralatan safety nya. Setelah itu kami pun siap untuk berarung jeram. Hari ini debit air cukup tinggi namun masih aman untuk di arungi. Untuk menuju lokasi arung jeram, kami diangkut dengan pick up (yang biasanya digunakan untuk mengangkat sapi). Perjalanan ini cukup seru, mengingat jalan nya naik turun dan kecil. Tapi pemandangan sepanjang jalan cukup menghibur hati. 20 menit kemudian tiba di lokasi. Ternyata harus jalan kaki lagi sekitar 10 menit. Gak apa-apalah.. itung-itung pemanasan. Sempat berbincang-bincang dengan salah satu skipper dan yang mengejutkan ternyata adalah dia adalah teman dari teman saya yang suka berarung jeram juga. Untung nya hari itu air sungai cukup jernih dan jeram Welcome siap menyambut kami. Setelah pembagian kelompok, tim ku berangkat duluan dengan 1 kapten, 1 skipper dan 4 penumpang. Sudah tentu posisi paling depan menjadi posisi favoritku. Salah satu yang unik dari Pekalen Atas ini, berkali-kali kapten meneriakkan BOOM (posisi duduk di dalam perahu). Walaupun gradenya kecil, tapi kalau sampai terlempar keluar dari perahu akan menyakitkan, karena batunya tajam-tajam. Setelah mengarung selama ½ jam, kami pun mulai bertemu dengan air terjun kecil…. Dan makin lama air terjun nya semakin besar. Aroma kelelawar juga tercium dengan jelas. Betul-betul indah banget dah. Puas berfoto dan bermain di lokasi air terjun ini, kami melanjutkan perjalanan. Tiba di pondok kecil yang tidak begitu jauh dari air terjun terakhir, kami pun menepi untuk mengisi perut dengan segelas STMJ (susu telur madu jahe) dan pisang goreng yang laris manis dilahap peserta. Energi pun terisi kembali. Skipper dan kapten di perahuku sudah gatal untuk membalikkan perahu kami. Akhirnya di lokasi tempat terjun bebas, mereka sukses membalikkan kapal. Alhasil kami semua pun tercebur ke dalam air. Salah satu peserta ada yang terserang panik. Untungya skipper, kapten dan sang pacar sigap menolong nya. Nah, di lokasi ini ada yang seru nih. Uji adrenaline. Peserta di tantang untuk terjun dari tebing dengan ketinggian 5 meter ke dalam sungai. Awalnya sih keder juga, tapi begitu di kasih contoh bagaimana cara melompatnya, akhirnya berani juga… dan jantung serasa melorot ke kaki pada saat akan lompat. Puas main lompat-lompatan, kami pun segera menuju finish point. Arung jeram selam 2 jam berakhir sudah. Saat nya berganti dengan pakaian kering untuk melanjutkan perjalanan menuju penginapan di Bromo.

Gelap nya malam, lelah, pegal dan rasa kantuk yang amat sangat menemani perjalanan dari Pekalen menuju Bromo. Perut yang mulai merintih kelaperan akhirnya diisi juga dengan sepiring nasi rawon. Alhasil, mata ini semakin berat setelah makan. Waktu menunjukkan pukul 09.45 malam pada saat kami tiba di Yoschi’s Hotel. Dingin nya udara gunung sangat menggigit. Setelah dapet pembagian kamar, kami pun langsung tenggelam ke alam mimpi diiringi lagu yang sayup-sayup terdengar dinyanyikan di Bar Yoschi’s.

Rasanya baru sesaat mata ini terpejam… alarm handphone membangunkanku untuk segera bersiap-siap menuju Bromo. Dingin nya serasa makin menggigit. Dengan menggunakan jeep sewaan kami dan salah satu tour leader pun meninggalkan hotel. Rasa kantuk yang masih berat, rasa hangat dan ayunan mobil meninabobokkan diri ini. Kami parkir lumayan jauh dari Penanjakan (tempat untuk menanti matahari terbit). Sehingga harus berjalan kaki lagi sekitar 15 menit. Ojek motor dan penyewaan jaket menawarkan jasa mereka. Tapi kami bersikukuh untuk tetap berjalan kaki dalam kegelapan sampai di Penanjakan sekalian menghangatkan badan. Ternyata penuh banget.. Kami pun berpencar supaya bisa menyelinap di antara orang-orang untuk mendapatkan tempat terbaik. Harus pelan-pelan… kalau nggak bakal di teriakin sekitar 500 orang kalo nyelinapnya pakai sodok kanan dan kiri. Setelah dapet tempat yang lumayan nyaman, ku alihkan mata ini sesaat untuk melihat pengunjung yang datang.



 Banyak juga wisatawan manca Negara nya. Perlahan tapi pasti, sang surya pun mulai menunjukkan kemilau terangnya. Sungguh indah dan mempesona.



Decak kagum orang-orang dan kilatan sinar dari kamera mengabadikan pagi itu. Dan tak lama, sang surya pun semakin tinggi. Satu persatu mulai meninggalkan penanjakan. Langit biru dan tanpa kabut menambah keindahan pagi itu. Tapi perut ini juga lapar minta diisi. Mie siram dan segelas teh manis pahat segera menghangatkan tubuh ini. Sekarang tinggal menunggu teman-teman lainnya untuk melanjutkan perjalanan menuju kawah Bromo. Untuk menuju kawah Bromo, kami pun berjalan kaki melintasi padang pasir.


Sebenarnya sih ada penyewaan kuda, tapi kami ingin merasakan menapaki 402 buah (ntah bener atau nggak jumlahnya…nggak sempat ngitung) anak tangga. Tertatih dan tersenggal juga napas ini. Dan dengan segala upaya dikerahkan, akhirnya tiba juga di bibir kawah semeru.
Wah seram amat tempatnya. Pagar pelindungnya hanya sedikit saja. Teman-temanku yang punya nyali besar, berani untuk berfoto di luar pagar pelindung. Gak kebayang dah kalau jatuh, bakal jadi persembahan tuh… Karena tempatnya nggak aman, aku mengajak teman-teman untuk segera turun. Dan diputuskan setelah melewati tangga, akan dilanjutkan menunggang kuda. Tawar menawar pun terjadi begitu kami menginjakkan kaki di anak tangga terakhir. Dan akhirnya dapat harga Rp 20.000 sampai ke tempat parkiran mobil. Untung kuda yang kutunggangi tinggi dan besar.
Awalnya sangat takut, apalagi pada saat menuruni kawah, jalannya tidak rata. Tapi lama-kelamaan pun mulai terbiasa. Begitu sampai di padang pasir, sang pemilik kuda menawarkanku untuk membawa sendiri kudanya yang langsung kutolak mentah-mentah. Ntar kalau tiba-tiba kudanya ngamuk dan aku dilempar dari atas pelana kan serem. Setibanya di tempat parkiran, badan ini mulai terasa pegal. Ternyata walau sudah berusaha sesantai mungkin, menunggang kuda cukup membuat seluruh badan sakit. Dan tak jauh dari tempat jeep di parkir, ada pedagang bakso. Kami pun menyerbu penjual bakso ini. Soal rasa jangan ditanya dah. . yang penting bisa buat ganjal perut. Sebenarnya paket tour di Bromo hanya sampai di kawah saja, tapi kami ingin ke Pasir Berbisik (tempat syuting filmnya Dian Sastro “Pasir Berbisik”) dan ke bukit Teletubbies. Setelah berdiskusi, kami pun sepakat menambah ongkos sewa mobil sebesar Rp 22.000 /orang. Perjalanan dilanjutkan menuju ke Bukit Teletubbies. Setibanya di sana, kami di sambung padang savanna… kalau diliat dari kejauhan emang keren banget, tapi rumput-rumputnya cukup tajam dan bisa melukai kaki. Bukit ini mengingatkanku pada saat menuju Air Terjun Haratai di Loksado.


Bedanya, di Haratai tuh panas banget dan banyak nyamuk, kalau di Bukit Teletubbies tuh berangin dan dingin banget. Puas bernarsis ria di tempat ini, perjalanan di lanjutkan ke Pasir Berbisik. Wah langsung membayangkan salah satu adegan dimana Dian Sastro berlari-lari di lokasi ini. Keren dah pokoknya, apalagi begitu ada hembusan angin, pasir nya serasa berbisik (boleh percaya boleh tidak).

                              
Yap, sudah waktunya untuk kembali ke hotel dan berkemas, karena rekan-rekan dari Jakarta harus meninggalkan Surabaya jam 5 sore (walo akhirnya delay sampai jam 7 malam).



Thanks a lot buat :

1. DAL Adventure… trip nya bener-bener adventure.

2. Da Rifi Hostel… staff yang ramah dan suasana kekeluargaannya kental banget. Recommended banget dah buat teman-teman Backpacker kalo pada main ke Surabaya dan nggak punya teman buat ditebengi.

3. Teman-teman perjalanan : Imam dan Anang – yang ternyata GiFo juga, Oqhtie dan Dina – yang narsis habis dan semangat sepanjang perjalanan, serta Kenny dan Meina… semoga Indonesia membawa kenangan indah buat kalian berdua.

4. NOARS …. Ditunggu kedatangannya di Sungai-sungai Sulawesi.