Monday, June 28, 2010

Road Trip : Pekalen - Bromo

Satu hari setelah bermalam di Surabaya (Da Rifi Hostel), saya dan beberapa teman baru bertemu di tempat parkir Lotto Supermarket (dulunya Makro). Kali ini trip perjalanan di pandu oleh DAL Adventure. Jumlah peserta nya 7 orang.Tour leader kami orangnya kocak dan asik, dan gak disangka ternyata Febry dan Elyudien ini adalah teman SMA rekan kerja saya. Setelah berkenalan dengan peserta yang lain, kami pun menuju Pekalen. Waktu tempuh dari Surabaya menuju Pekalen adalah 3 jam. Arung jeram di Pekalen patut untuk dicoba. Bukan karena sisi gradenya yang terhitung kecil (2 – 3) akan tetapi di karenakan keunikan air terjun dan kelelawar yang jumlah nya sangat banyak. Sehingga salah satu air terjun tersebut dinamakan Air Terjun Kelelawar. (http://www.facebook.com/home.php?sk=lf#!/album.php?aid=2053482&id=1052373573&ref=mf)

Tiba di Pekalen Atas, kami menuju NOARS (salah satu provider arung jeram). Ukuran jalannya nya hanya pas untuk satu mobil saja. Karena sudah masuk musim liburan, setibanya di NOARS, sudah banyak mobil parkir di sana. Wow… rame sekali. Kami pun segera berganti pakaian dan mengisi perut dengan hidangan makan siang yang sudah disiapkan serta memilih peralatan safety nya. Setelah itu kami pun siap untuk berarung jeram. Hari ini debit air cukup tinggi namun masih aman untuk di arungi. Untuk menuju lokasi arung jeram, kami diangkut dengan pick up (yang biasanya digunakan untuk mengangkat sapi). Perjalanan ini cukup seru, mengingat jalan nya naik turun dan kecil. Tapi pemandangan sepanjang jalan cukup menghibur hati. 20 menit kemudian tiba di lokasi. Ternyata harus jalan kaki lagi sekitar 10 menit. Gak apa-apalah.. itung-itung pemanasan. Sempat berbincang-bincang dengan salah satu skipper dan yang mengejutkan ternyata adalah dia adalah teman dari teman saya yang suka berarung jeram juga. Untung nya hari itu air sungai cukup jernih dan jeram Welcome siap menyambut kami. Setelah pembagian kelompok, tim ku berangkat duluan dengan 1 kapten, 1 skipper dan 4 penumpang. Sudah tentu posisi paling depan menjadi posisi favoritku. Salah satu yang unik dari Pekalen Atas ini, berkali-kali kapten meneriakkan BOOM (posisi duduk di dalam perahu). Walaupun gradenya kecil, tapi kalau sampai terlempar keluar dari perahu akan menyakitkan, karena batunya tajam-tajam. Setelah mengarung selama ½ jam, kami pun mulai bertemu dengan air terjun kecil…. Dan makin lama air terjun nya semakin besar. Aroma kelelawar juga tercium dengan jelas. Betul-betul indah banget dah. Puas berfoto dan bermain di lokasi air terjun ini, kami melanjutkan perjalanan. Tiba di pondok kecil yang tidak begitu jauh dari air terjun terakhir, kami pun menepi untuk mengisi perut dengan segelas STMJ (susu telur madu jahe) dan pisang goreng yang laris manis dilahap peserta. Energi pun terisi kembali. Skipper dan kapten di perahuku sudah gatal untuk membalikkan perahu kami. Akhirnya di lokasi tempat terjun bebas, mereka sukses membalikkan kapal. Alhasil kami semua pun tercebur ke dalam air. Salah satu peserta ada yang terserang panik. Untungya skipper, kapten dan sang pacar sigap menolong nya. Nah, di lokasi ini ada yang seru nih. Uji adrenaline. Peserta di tantang untuk terjun dari tebing dengan ketinggian 5 meter ke dalam sungai. Awalnya sih keder juga, tapi begitu di kasih contoh bagaimana cara melompatnya, akhirnya berani juga… dan jantung serasa melorot ke kaki pada saat akan lompat. Puas main lompat-lompatan, kami pun segera menuju finish point. Arung jeram selam 2 jam berakhir sudah. Saat nya berganti dengan pakaian kering untuk melanjutkan perjalanan menuju penginapan di Bromo.

Gelap nya malam, lelah, pegal dan rasa kantuk yang amat sangat menemani perjalanan dari Pekalen menuju Bromo. Perut yang mulai merintih kelaperan akhirnya diisi juga dengan sepiring nasi rawon. Alhasil, mata ini semakin berat setelah makan. Waktu menunjukkan pukul 09.45 malam pada saat kami tiba di Yoschi’s Hotel. Dingin nya udara gunung sangat menggigit. Setelah dapet pembagian kamar, kami pun langsung tenggelam ke alam mimpi diiringi lagu yang sayup-sayup terdengar dinyanyikan di Bar Yoschi’s.

Rasanya baru sesaat mata ini terpejam… alarm handphone membangunkanku untuk segera bersiap-siap menuju Bromo. Dingin nya serasa makin menggigit. Dengan menggunakan jeep sewaan kami dan salah satu tour leader pun meninggalkan hotel. Rasa kantuk yang masih berat, rasa hangat dan ayunan mobil meninabobokkan diri ini. Kami parkir lumayan jauh dari Penanjakan (tempat untuk menanti matahari terbit). Sehingga harus berjalan kaki lagi sekitar 15 menit. Ojek motor dan penyewaan jaket menawarkan jasa mereka. Tapi kami bersikukuh untuk tetap berjalan kaki dalam kegelapan sampai di Penanjakan sekalian menghangatkan badan. Ternyata penuh banget.. Kami pun berpencar supaya bisa menyelinap di antara orang-orang untuk mendapatkan tempat terbaik. Harus pelan-pelan… kalau nggak bakal di teriakin sekitar 500 orang kalo nyelinapnya pakai sodok kanan dan kiri. Setelah dapet tempat yang lumayan nyaman, ku alihkan mata ini sesaat untuk melihat pengunjung yang datang.



 Banyak juga wisatawan manca Negara nya. Perlahan tapi pasti, sang surya pun mulai menunjukkan kemilau terangnya. Sungguh indah dan mempesona.



Decak kagum orang-orang dan kilatan sinar dari kamera mengabadikan pagi itu. Dan tak lama, sang surya pun semakin tinggi. Satu persatu mulai meninggalkan penanjakan. Langit biru dan tanpa kabut menambah keindahan pagi itu. Tapi perut ini juga lapar minta diisi. Mie siram dan segelas teh manis pahat segera menghangatkan tubuh ini. Sekarang tinggal menunggu teman-teman lainnya untuk melanjutkan perjalanan menuju kawah Bromo. Untuk menuju kawah Bromo, kami pun berjalan kaki melintasi padang pasir.


Sebenarnya sih ada penyewaan kuda, tapi kami ingin merasakan menapaki 402 buah (ntah bener atau nggak jumlahnya…nggak sempat ngitung) anak tangga. Tertatih dan tersenggal juga napas ini. Dan dengan segala upaya dikerahkan, akhirnya tiba juga di bibir kawah semeru.
Wah seram amat tempatnya. Pagar pelindungnya hanya sedikit saja. Teman-temanku yang punya nyali besar, berani untuk berfoto di luar pagar pelindung. Gak kebayang dah kalau jatuh, bakal jadi persembahan tuh… Karena tempatnya nggak aman, aku mengajak teman-teman untuk segera turun. Dan diputuskan setelah melewati tangga, akan dilanjutkan menunggang kuda. Tawar menawar pun terjadi begitu kami menginjakkan kaki di anak tangga terakhir. Dan akhirnya dapat harga Rp 20.000 sampai ke tempat parkiran mobil. Untung kuda yang kutunggangi tinggi dan besar.
Awalnya sangat takut, apalagi pada saat menuruni kawah, jalannya tidak rata. Tapi lama-kelamaan pun mulai terbiasa. Begitu sampai di padang pasir, sang pemilik kuda menawarkanku untuk membawa sendiri kudanya yang langsung kutolak mentah-mentah. Ntar kalau tiba-tiba kudanya ngamuk dan aku dilempar dari atas pelana kan serem. Setibanya di tempat parkiran, badan ini mulai terasa pegal. Ternyata walau sudah berusaha sesantai mungkin, menunggang kuda cukup membuat seluruh badan sakit. Dan tak jauh dari tempat jeep di parkir, ada pedagang bakso. Kami pun menyerbu penjual bakso ini. Soal rasa jangan ditanya dah. . yang penting bisa buat ganjal perut. Sebenarnya paket tour di Bromo hanya sampai di kawah saja, tapi kami ingin ke Pasir Berbisik (tempat syuting filmnya Dian Sastro “Pasir Berbisik”) dan ke bukit Teletubbies. Setelah berdiskusi, kami pun sepakat menambah ongkos sewa mobil sebesar Rp 22.000 /orang. Perjalanan dilanjutkan menuju ke Bukit Teletubbies. Setibanya di sana, kami di sambung padang savanna… kalau diliat dari kejauhan emang keren banget, tapi rumput-rumputnya cukup tajam dan bisa melukai kaki. Bukit ini mengingatkanku pada saat menuju Air Terjun Haratai di Loksado.


Bedanya, di Haratai tuh panas banget dan banyak nyamuk, kalau di Bukit Teletubbies tuh berangin dan dingin banget. Puas bernarsis ria di tempat ini, perjalanan di lanjutkan ke Pasir Berbisik. Wah langsung membayangkan salah satu adegan dimana Dian Sastro berlari-lari di lokasi ini. Keren dah pokoknya, apalagi begitu ada hembusan angin, pasir nya serasa berbisik (boleh percaya boleh tidak).

                              
Yap, sudah waktunya untuk kembali ke hotel dan berkemas, karena rekan-rekan dari Jakarta harus meninggalkan Surabaya jam 5 sore (walo akhirnya delay sampai jam 7 malam).



Thanks a lot buat :

1. DAL Adventure… trip nya bener-bener adventure.

2. Da Rifi Hostel… staff yang ramah dan suasana kekeluargaannya kental banget. Recommended banget dah buat teman-teman Backpacker kalo pada main ke Surabaya dan nggak punya teman buat ditebengi.

3. Teman-teman perjalanan : Imam dan Anang – yang ternyata GiFo juga, Oqhtie dan Dina – yang narsis habis dan semangat sepanjang perjalanan, serta Kenny dan Meina… semoga Indonesia membawa kenangan indah buat kalian berdua.

4. NOARS …. Ditunggu kedatangannya di Sungai-sungai Sulawesi.

Sunday, March 21, 2010

Arung Jeram Progo Bawah - Yogya


Kata beberapa pecinta arung jeram, Progo Bawah mempunyai jeram yang sangat menantang dengan grade 4 - 5 di musim hujan. Pucuk dicinta ulam pun tiba...di milis Nature Trekker nongol lah event untuk arung jeram di Progo Bawah selama 5 jam yang diadakan oleh Equator Sinergi Indonesia.. Langsung dah mendaftarkan diri :- ). Gak lupa ngomporin teman-teman yang mempunyai minat yang sama. Akhirnya hanya berhasil ngomporin 2 adek gw dan 2 teman yang lain : Ayu & Mbak Ririn. Acara arung jeram sendiri dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2010. 

Progonaline 2
Sabtu pagi yang cerah.. sebenarnya sih berharap banget malamnya hujan, karena level air nya pasti akan naik :-). Sayangnya doa ku tidak terkabul...Tim arung jeram kali ini terbagi dari 2 tim pemberangkatan yaitu Yogya dan Jakarta. Tim dari Yogya berkumpul di taman parkir BI. Total peserta Yogya sebanyak 15 orang pun saling berkenalan satu sama lain. 

Waktu telah menunjukkan jam 7.30 pagi, kami pun berangkat menuju base camp arung jeram di Magelang (sekitar 45 menit naik mobil)...yah sempat ada acara dorong mobil Elf yang tiba-tiba mesinnya mati. Untungnya gak lama menunggu mesin mobil pun menyala.. dalam perjalanan perut yang hanya diisi teh manis panas ini sudah merengek minta diisi...alhamdulillah begitu tiba di lokasi, makanan hangat sudah tersedia. Tanpa basa-basi dahulu dengan peserta Jakarta yang telah tiba terlebih dahulu, kami pun langsung menyantap makanan yang terhidang. Perut pun kenyang.. waktu nya bersiap-siap untuk berarung jeram dan memoles tubuh dengan sun block lotion supaya gak item :)

Eh gak tahu nya, untuk mencapai tepi Sungai Elo, harus naik pick up dulu sekitar 10 menitan. Seru...seru...  Nah di perjalanan di temanin salah seorang skipper yang rame banget... Namanya Jono Item.. (jadi inget ma om Jon yang di Toraja ... gak beda jauh ma nih orang).

Tiba di bibir Sungai Elo, kami pun di briefing teknik mendayung dan rescue apabila kapal terbalik atau ada teman yang terlempar dari perahu karet... tak lupa pemanasan untuk meregangkan otot.

Jam 11 siang pengarungan pun dimulai... semua nya ada 4 perahu dan masing-masing perahu diisi 2 skipper dan 5 peserta. Hmmm...berarti grade sungai hari ini lumayan tinggi kalau skippernya ada 2 orang. Awal-awal pengarungan belum ada jeram yang cukup menggiurkan... 
setelah 1 jam lebih mengarung... perahu menepi sebentar untuk spotting. Jeram yang siap menyambut adalah Jeram Welcome.... setelah cukup lama spotting, satu persatu perahu pun melewati jeram tersebut.... dan semuanya sukses :). Ini dia video nya Jeram Welcome

Pengarungan pun berlanjut...beberapa jeram kecil menemani sepanjang jalan menuju Jeram Budil. Kata skipperku, jeram ini yang paling seram.. Jeram Budil ini diambil dari nama anak Wanadri, almarhum Budi L.,  yang meninggal disitu, kalau gak salah tahun 90-an saat Progo Bawah belum dibuka untuk umum. Tingkat kesulitannya tinggi. Sebelah kiri mainstream besar, ada undercut dan yang pasti kalau lewat situ dan terbalik lalu masuk undercut, ya sudah.. tergantung kuasa Tuhan... bisa selamat bisa meninggal.Setelah spotting sebentar, satu per satu perahu pun melalui jeram ini... ada yang lewat pinggir dan ada yang lewat jalur tengah. Video pengarungannya seperti ini...Jeram Budil

begitu melewati jeram ini, kapal sudah penuh dengan air..sebenarnya seru abiess lewatin Jeram ini... tapi karena lagi merekam selama melewati jeram ini, sensasi nya kurang terasa..hebatnya lagi tidak ada satupun perahu karet yang terbalik...salut dah buat semua peserta dan skipper dari Mendut Raft... 

setelah melewati jeram-jeram terkenal ini, kami tiba di bendungan Ancol dan beristirahat sebentar untuk mengisi perut dengan makanan ringan.. 

Istirahat selama setengah jam cukup untuk mengumpulkan tenaga... pengarungan selanjutnya pun dimulai dengan melewati dam Ancol... gw baru menikmati arung jeramnya.. apalagi pas melewati Jeram Pier yang cukup panjang... seruuu..... skipper kami berulang kali meneriakkan aba-aba untuk "Dayung Kuat.. dayung kuat...." karena kalo ga di dayung..perahu akan berhenti dan berputar-putar di situ... di pengarungan ke dua ini jeram-jeram nya lebih oke dibandingkan jeram di pengarungan pertama walau tidak sedahsyat Jeram Welcome dan Jeram Budil.. 

Ada satu kejadian yang membuat gw sampai saat ini tidak habis pikir kejadian persisnya terlempar keluar dari perahu..padahal saat itu jeramnya sangat kecil... tiba-tiba saja sudah terlempar keluar... he he he... asik juga.. 

Akhirnya pengarungan harus berakhir begitu kami tiba di jembatan Dekso.... setelah berfoto bersama, kami pun kembali ke basecamp arung jeram progo bawah dengan naik pick up. Badan lelah dan basah kedinginan diiringi hujan deras yang turun menemani perut yang sudah minta diisi lagi... Alhamdulillah, tiba juga di basecamp... setelah ngantri mandi, segera menyantap makanan yang sudah dihidangkan panitia. 

At last...two thumbs buat Progo Bawah.. Sungai dengan jeram paling oke di Pulau Jawa & Bali...

Thanks a lot buat Equator Sinergi Indonesia yang sudah menyelenggarakan Progonaline 2...
Buat teman-teman yang kemarin baru kenal.. sampai ketemu lagi di jeram-jeram Sungai Indonesia.. ngutip kata-kata Jarody - "Sungai mempertemukan kita semua"

Foto-foto selengkapnya dapat dilihat di  Progonaline2

- L i l i -