Tuesday, December 22, 2009

Arung Jeram S. Saddan, Toraja

“Arung jeram yok…”. Mbak Ririn mengajukan ide ini untuk melalui libur panjang. Ide yang menarik. Setelah cari info kesana kemari, akhirnya dapet juga lokasi arung jeram dengan grade 4 – 5 di Sungai Saddan, Toraja. Hmmm… teman gue sampai ngiler mendengar kabar ini. Dua minggu mempersiapkan semua, dimulailah trip arung jeram ini.

Kamis, 17 Desember 2009

Cuaca cerah di sore hari mulai tergantikan mendungnya langit di ufuk barat. Hati pun berdoa semoga perjalanan dimudahkan. Berita terbaru bahwa jalan poros Palopo – Toraja masih belum bisa dilalui tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap melewati jalur tersebut. Tepat jam 8 malam, kami ber – 8 bergerak meninggalkan Sorowako menuju Toraja. Karena gak bawa sopir, kami membagi jatah jam nyupir dan navigatornya. Giliran pertama oleh Bowo & Mbak Ririn sebagai navigator dengan rute Sorowako – Wotu. Giliran berikutnya aku dan Tyas sebagai navigator dengan rute Wotu – Masamba, kemudian disusul Aziz dan Ayu dengan rute Masamba – Palopo dan yang terakhir Saldee dan Merry dengan rute Palopo – Toraja. Hujan deras, canda tawa, ada yang mabuk darat mengiringi perjalanan kami. Sayang nya begitu tiba di KM 38 poros Palopo – Toraja sekitar jam 1 pagi, jalan di depan kami tertutup oleh reruntuhan batuan. Ukuran batunya segede-gede kerbau dan jalan longsor hampir ¾ bagian. Ya sudah lah, karena jalur ini tidak bisa dilalui, terpaksa kami putar balik dan harus melalui Enrekang. Artinya harus nambah 6 jam nyopir untuk sampai di Makale – Toraja. Badan sudah mulai lelah. Waktu nyupir makin dikurangi menjadi satu jam setiap orang. Komposisi navigator berubah total…

18 Desember 2009

Waktu subuh pun tiba. Kami beristirahat sebentar di Masjid dan berdoa lagi supaya dimudahkan selama perjalanan. Karena terus terang belum pernah ada yang menempuh rute Enrekang – Toraja. Untung aja dah bawa GPS kantor dan ada peta Sulawesi Selatan yang bisa diandalkan selama dalam perjalanan. Akhirnya tiba juga di Makale jam 8.30 pagi (tanpa tersesat). Pak Agus Lamba sebagai provider dari Indosella Expedition dan tim nya sudah menunggu di Kolam Makale. Kebetulan ada tim MAPALA dari UNMUL juga, jadi tambah ramailah perjalanan ini.Setelah ber koordinasi sesaat, kami pun bergerak menuju Buakayu (starting point) dengan iringan 3 mobil kijang. Tapi sebelumnya isi perut dulu di Terminal Makale dengan menu andalan Pop Mie siram dan teh manis panas… habis gak berani makan di warung, takut gak halal . Perjalanan menuju Buakayu sangat menyenangkan.

Road to Buakayu


Kami melewati beberapa perkampungan Toraja. Tapi rasa ngantuk membuatku lebih memilih untuk tidur dan memulihkan stamina. Jam 11 siang kami berhenti di bukit “Teletubbies” untuk makan siang. Pemandangannya indah banget.

Bukit Teletubbies

Setelah itu perjalanan di lanjutkan lagi menuju starting point (sekitar 30 menit) dari bukit “Teletubbies”. Tiba di lokasi kami langsung berganti kostum dan beristirahat sebentar. Badan serasa dah mo rontok. Tim Indosella pun mempersiapkan perlengakapan rafting. Semua tas dan perlengkapan dimasukkan ke dalam dry bag. Menjelang jam 1 siang, kami briefing sebentar. Ada 3 perahu yang akan berarung jeram. Kami tidak memulai nya dari daerah Puru, sehingga tidak melaui jeram Puru (Puru = Jilatan Api dalam Bahasa Toraja), karena perlu jalan kaki lagi untuk menuju lokasi tersebut. Wah….gak kebayang deh dengan badan yang sudah super duper lelah di suruh jalan kaki lagi. Next time aja deh, kalau poros Palopo – Toraja sudah terbuka normal. Kali ini kapten kapal aku adalah Pak Theo dengan skipper Rio dan Pak John. Aku satu perahu dengan mbak Ririn, Tyas dan Merry. Teman-teman yang lain di perahu karet satunya. Awal perjalanan menyajikan keindahan pemandangan alam Toraja. Hamparan bukit dan ladang menghijau di depan mata. Kata Pak John serasa di luar negeri . Beberapa jeram kecil pun di lalui. Gw, Mbak Ririn dan Tyas yang sudah beberapa kali berarung jeram sudah tidak sabar melalui jeram-jeram yang terkenal sulit dan sering membuat perahu terbalik. Akhirnya kami pertemu dengan jeram pertama yaitu jeram Photoshop. Di jeram ini Tyas terlempar dari perahu karet. Aku juga gak inget persis bagaimana kejadiannya. Tiba-tiba aja doi sudah gak ada di perahu pada saat melewati jeram ini. Tim skipper pun segera turun untuk membantu Tyas. Jeram berikut nya adalah Jeram Monyet. Di jeram ini tim salah seorang tim Mapala jatuh.

bowo ma saldee telempar dari kapal setelah melewati jeram monyet
Perkenalan....
Melewati jeram Monyet


Eh gak tahunya teman 2 teman kami juga jatuh setelah melewati jeram ini. Makin seru nih sepertinya jeram-jeram berikutnya. Walau debit air sedang normal, jeramnya cukup menantang. Jeram Fitri siap menyambut kami dan bisa kami lalui dengan baik. Setiap jeram yang akan di lalui dilakukan spotting dulu oleh tim Indosella untuk memastikan jalur yang akan di lalui. Apakah masuk ke dalam HOLE atau tidak. Masuk hole artinya bersiap-siap untuk terputar di dalam arus air dan perahunya terbalik . Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Kami pun berhenti untuk bermalam. Tim Indosella memasang tenda dan menyiapkan menu makan malam. Waktunya buat para wanita untuk mandi dan perawatan kulit . Air sungai nya cukup keruh, tapi kami tetap aja cuek membersihkan badan dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sore itu kami isi dengan canda tawa dan membahas kejadian-kejadian lucu selama rafting, seperti saat Tyas terlempar dari perahu, Bowo yang kehilangan salah satu sepatunya saat terjatuh, Saldee yang ikut terjatuh karena kualat dengan Bowo.

Menikmati late lunch

persiapan mandi di tepi sungai saddan


Perut kenyang, mata ngantuk berat dan badan yang lelah menggiring kami satu per satu ke dalam tenda yang sudah disiapkan. Mosquito spray sudah disiapkan (untung nya gak ada nyamuk sama sekali). Jam 7 malam kami pun tertidur lelap. Panggilan makan malam pun sudah tak ku dengar. Badan ini amat sangat lelah. Selamat malam semua.


19 Desember 2009
Brrrr….dinginnya.. tadi malam sempat terkena tetesan air hujan yang masuk melewati sela-sela tenda jendela yang lupa ditutup. Suara debur air sungai cukup kencang di pagi buta. Mata ini sudah terbuka jam 4 pagi. Perut ini perlu diisi dengan yang hangat-hangat. Kebetulan Pak John sedang memasak air panas. Aku pun mengambil coklat sachet untuk diseduh. Sambil menikmati coklat panas, aku ngobrol dengan pak John. Beliau banyak bercerita tentang pengalaman hidup beliau. Tak lama kemudian kapten Theo pun bergabung. Kami bertiga asyik bertukar cerita sambil menunggu terang. Jam 6 teman-teman mulai bangun satu per satu. Curah hujan yang cukup tinggi tadi malam, membuat kami harus menunggu sampai air sungai agak sedikit surut dan debit air mendekati normal. Air sungai pun bertambah coklat. Dalam hati berteriak senang dengan naiknya level air . Kami kemudian sarapan dan mempersiapkan diri untuk arung jeram hari ke -2. Jam 9 pagi perjalanan di mulai. Jeram-jeram menantang sudah siap menyambut kami. Langit biru dan indah nya bukit-bukit menyambut kami. Jeram-jeram kecil pun menyambut untuk pemanasan sebelum melalui jeram Nusa.


Tiba di jeram Nusa, semua perahu karet kembali menepi untuk melakukan spotting.. Sebelum nya, kapten Theo sudah bertanya apakah ingin masuk HOLE atau tidak. Dengan kompaknya tim ku menjawab “MASUK”….hehehee..agak gila emang . Kali ini tim ku di urutan paling akhir untuk melalui jeram tersebut. Agak deg-deg an juga, karena skipper kami tidak mau melalui jeram Nusa. Tim pertama (Saldee, Ayu, Bowo dan Aziz) pun melewati jeram tersebut… Sukses dan tidak ada yang terlempar dari perahu. Tim kedua (Mapala Unmul) dengan suksesnya masuk ke dalam hole dan terbalik… semua perbekalan yang ada di perahu mereka tumpah ke dalam air. Beberapa barang di dalam dry bag besar bisa di selamatkan. Tapi beberapa perlengkapan mereka ada yang hilang terbawa arus. Ini lah saat nya tim ku untuk melalui hole tersebut. Deg-deg an semakin kencang karena skipper kami benar-benar gak ikut. Kapten Theo menghampiri kami dan member pengarahan kembali sebelum masuk ke dalam hole. Saat yang mendebarkan tiba. Waktu serasa berjalan lambat sekali begitu mendekati hole. Adrenalin semakin memuncak. Satu…dua…satu..dua..kami mendayung dengan semangat mengikuti aba-aba kapten Theo. Hole sudah di depan mata dan kemudian semuanya berlalu begitu cepat. Komando kapten Theo sudah tak bisa ku dengar. Tangan ini hanya bisa berpegangan erat di tali perahu supaya tidak terlempar…dan akhirnya kami melewati hole tersebut dengan sukses tanpa ada satupun yang terlempar dari perahu (https://www.facebook.com/video/video.php?v=213520039276&ref=mf)
Awal-awalnya agak sedikit bengong dengan keberhasilan kami…setelah sadar, baru deh pada ketawa-ketawa. Kapten Theo juga senang sekali, karena beliau sudah sebelas kali lewat jeram tersebut selalu terputar-putar di dalamnya. Jeram Nusa adalah jeram terbesar yang dilalui di hari ke – 2. Selanjutnya jeram-jeram grade 3 – 4. Gak terasa perut sudah lapar. Jam 12-an siang kami menepi untuk makan siang dan ber-foto di sekitar lokasi.



Perjalanan pun dilanjutkan. Kami pun tiba di finish point di Desa Pappi, Kab. Enrekang (sekitar 3 km dari Kab. Enrekang). Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kami pun segera berganti baju dan berpamitan dengan tim Indosella dan Mapala Unmul yang sudah menemani kami selama 2 hari. Kami pun meninggalkan Desa Pappi dengan sejuta kenangan indah. 






Karena hari sudah sore, kami putuskan untuk bermalam di Palopo. Dalam perjalanan kami mampir makan malam di Sidrap untuk makan Belibis.



Kudu hati-hati ya… karena kami sempat merasa tertipu karena ketidak telitian kami. Jadi mereka akan menghidangkan beberapa potong daging belibis / ayam dalam satu piring dan yang dihitung hanya yang dimakan saja. Karena kami gak tahu sistemnya seperti itu, kami habiskan aja apa yang terhidang di depan mata karena berpikiran emang segitu lah porsinya. Eh gak tahunya pas akan bayar di kasir dihitung nya per potong. Yahhhh….lumayan menghabiskan budget kami. Bayangkan aja 8 orang yang makan bisa menghabiskan 30 potong daging belibis goreng. Tapi semua itu dijadikan bahan guyonan. Sampai saat mengalami pecah ban pun masih pada becandaan. Bener-bener perjalanan yang mengesankan.

20 Desember 2009
Menjelang jam 1 pagi, kami tiba di Palopo. Badan sudah sangat penat dan minta istirahat. 2 kamar suite di Citra Buana Hotel menjadi pilihan. Huffff…akhirnya istirahat juga.
Pagi jam 6 kami pun bangun dan bergantian mandi. Sarapan, ganti ban mobil, mampir ke KFC dan ke bengkel menjadi kegiatan hari itu. Semuanya dilakukan secepat dan seefisien mungkin. Tepat jam 1 kami pun meninggalkan Palopo menuju Sorowako. Kembali ke desa lagi untuk bekerja demi segenggam berlian …hehehehhe..

Thanks berat buat Mbak Ririn, Tyas, Ayu, Merry, Bowo, Saldee dan Aziz … seneng buangettt menghabiskan long weekend dengan kalian.. apalagi dengan banyolan yang tiada hentinya sehingga gak bisa diceritakan detil di catper ini saking banyaknya. 



Terima kasih juga untuk Pak Agus Lamba, Om John, Kapten Theo dan teman-teman dari Indosella Expedition…sampai bertemu kembali di ekpedisi Sungai Rongkong.

Tim Mapala Unmul… kali-kali aja bisa ketemu kembali, ada yang pengen kenalan tuh .


Foto : https://www.facebook.com/album.php?aid=125799&id=842299276

Monday, November 30, 2009

Loksado Trip (Banjarmasin - Martapura - Loksado)

LOKSADO. Betapa senangnya hari yang di nantikan sudah tiba untuk travelling lagi.

26 November 2009. Hujan mengguyur Sorowako. Perlengkapan untuk travelling sudah siap. Tempat tujuan adalah Banjarmasin (Kalimantan Selatan) via Surabaya. Agak sedikit deg-degan dengan kondisi cuaca hari ini yang agak kurang bersahabat. Jam 7 pagi, aku dan Mbak Rin meninggalkan Sorowako dengan pesawat besi menuju Makassar menembus hujan dan kelabunya awan. Jam 8-an pagi tiba di Makassar dilanjutkan penerbangan berikutnya menuju Banjarmasin via Surabaya. Tiba di Surabaya, perut sudah mulai kelaparan. Maklumlah dengan Citilink tidak ada konsumsi disediakan buat penumpang. Walo hanya transit, kesempatan untuk wisata kuliner juga gak dilewatkan. Menu yang ku pilih Soto Lamongan dan satu gelas es degan (es kelapa muda). Hmmm... enak. Perut kenyang sudah. Saat nya untuk lanjut penerbangan. Eh... tapi kok delay ya. Hujan nggak.. Info keterlambatan penerbangan juga gak ada. Dalam hati berkata "What do you expect from cheap flight." Yaahhh.. daripada kesel, lebih baik mondar-mandir di bandara Juanda aja lah. Untung ada troli, jadi gak terlalu berat memanggul beban backpack di pundak. Satu jam delay dari jam keberangkatan, akhirnya pesawat Citilink tujuan Banjarmasin pun tiba. Cuaca Surabaya sama gak bersahabatnya dengan cuaca Makassar. 30 menit di atas pesawat, cuaca berubah cerah. Jam 5-an akhirnya landing di Bandara Syamsudin Noor. Nyari taksi argo (di Kaltim dan Kalsel kalau angkot disebut Taksi Kuning dan taksi beneran dibilang taksi Argo). Karena agak males keluar dikit dari Airport, rate taksinya Rp 70ribu sampai di Hotel Perdana (Jl. Brigjen Katamso (dekat pasar malam Blauran) belakang KFC Kantor Pos Besar.Telp 0511-3353276). Selesai check in dan naruh barang-barang, kami kemudian "menyesatkan" diri dengan naik angkot tujuan T. Dalam (1 trip = Rp 3000). Khawatir tersesat terlalu jauh, akhirnya memutuskan untuk turun dan berjalan kaki menikmati sore. Ngeliat ada penjual es buah di pinggir jalan kayaknya enak buat dicoba. Cukup dengan membayar Rp 5.000. Rasa sih biasa-biasa aja..belum Maknyus kalo kata Pak Bondan. Eh..langit juga lagi bagus banget.. foto2 dulu ah..




Dari tempat makan es buah, kemudian "menyesatkan" diri lagi. Kali ini bener-bener tersesat. Setelah menunggu sekitar 10 menit di pinggir jalan menunggu angkot, akhirnya ada seorang bapak Ojek yang dengan ramahnya memberi bantuan informasi. Akhirnya kembali "menyesatkan" diri dengan angkot selanjutnya. Dalam perjalanan kami melewati Duta Mall. Akhirnya diputuskan untuk turun buat nonton New Moon di 21. Maklumlah, kami kan dari pedesaan..ketemu Kota kalo bisa ya disempatkan nge-Mall.

Selesai nonton, lanjut wisata kuliner di Solaria dengan menu pesanan Kwetiau Sea Food. Rasanya masih biasa-biasa aja. Yang penting perut kenyang dulu. Matapun akhirnya menjadi berat. Waktunya kembali ke hotel sambil menunggu rekan-rekan dari Jakarta. Menjelang tengah malam mereka pun tiba. Tapi karena mata sudah terlalu berat, sudah tidak sanggup say hello dengan mereka. Satu kamar di isi tiga orang dengan rate Rp 150 ribu /malam. Sudah include satu extra bed, AC, handuk, sabun, TV dan kamar mandi dan air yang bersih.

27 November 2009. Kami bangun jam 4 pagi untuk bergantian mandi di lanjutkan sarapan setangkup roti dan teh manis di lobby. Menjelang jam 1/2 6, semua peserta berkumpul di lobbi dan berkenalan satu sama lain. Jam 6 meninggalkan hotel menuju Martapura untuk Sholat Ied di sana menggunakan 2 mini bus. Di tengah perjalanan teman-teman dari Banjarmasin pun bergabung. Perjalanan menuju Masjid Martapura di tempuh sekitar 1 jam. Yang pada sholat pun segera bergabung dengan jamaah yang lain dan sebagian yang lain hunting foto-foto dan wisata kuliner lagi. Kami memutuskan makan di Pasar Batuah. Menu yang di pesan sate ayam 2 porsi dan masing-masing satu gelas teh manis panas. Harga satu porsi sate Rp 10 ribu.



Di Martapura, rekan dari Balikpapan juga bergabung (Yani). Lengkap sudah peserta yang akan berangkat ke Loksado dan berangkat jam 9 pagi. Waktu tempuh diperkirakan selama 3 jam. Lumayan bisa dipake buat menggali kisah-kisah perjalanan Mbak Sita. Gak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Perut dah minta di isi. Kami pun singgah di Ketupat Kandangan Hj. Ernawati.




Nah, kalo ini gak bisa ngasih tau berapa harga per porsinya...habisnya trip kali ini ada bendahara utama si Cila..jadi kami tinggal ngumpulin iuran aja :).


Selesai makan lanjut perjalanan ke Loksado. Memasuki daerah ini jalan mulai berliku dan naik turun. Aroma minyak angin pun mulai semerbak..untung nya sih gak ada yang sampai muntah. Tiba di Loksado jam 1 an dan kami pun langsung bersiap-siap untuk bamboo rafting. Air sungai nya jernih banget seperti Sungai Telagawaja di Bali. Jeramnya dan pemandangannya hampir sama dengan di Bali. Satu trip biaya nya sekitar Rp 200ribu. Satu bamboo rafting hanya boleh dinaikin 4 orang termasuk operator nya. Waktu tempuh 2 jam..enaknya lagi gak usah mendayung..jadi tinggal foto-foto, menikmati alam dan jeram-jeramnya. Tapi tetap basah kok.




Puas menikmati alam dan jeram di sungai Amandit, dilanjutkan dengan berjalan kaki ke objek wisata air panas (HTM : Rp 3000 / dewasa) dan air terjun Kilat Api di Tanuhi. Disini habis lah badan digigit nyamuk. Jadi kalo mau ke sini bawa obat nyamuk semprot dah...
















Menjelang magrib, kami menuju tempat menginap dan menaruh barang-barang di rumah pak Amat (http://picasaweb.google.com/ndesoadventure/BanjarMasinLoksadoJungleTrekking#5402811771257113826), makan malam dan BBQ di belakang Wisma Loksado. Malam pun berlalu.


28 November 2009

Lagi-lagi bangun jam 4 pagi karena kudu ngantri mandi...(berhubung malamnya gak mandi :)). Brrr...dingin buanget...tapi setelah itu badan jadi seger banget... sambil menunggu teman2 selesai berbenah, ku putuskan untuk keliling dan hunting foto di sekitar Loksado ditemani Ipin, walopun akhirnya di perbantukan jadi asistennya Ipin. Jam 7 pagi sarapan mie rebus....karena dah pada kelaperan berat, pada turun ke dapur bantuin ibu warung.. Roti tawar yang disiapin juga habis disikat.
Trip hari ini adalah trekking ke air terjun Haratai. Terus terang gak gitu ngerti akan seperti apa medannya. Kaki udah sedikit lecet karena bamboo rafting kemarin. Dan kuputuskan untuk kembali mengenakan sendal gunung. Sekalian di buat lecet dah... beberapa desa di lalui diantaranya Desa Malaris.


Buat yang senang explore budaya Indonesia, di sinilah tempatnya. Perjalanan menuju air terjun ditemani pak Amat. Beliau mengawal 12 wanita dan 1 laki-laki..


So pasti ini rombongan narsis mania walo gak se-narsis rombongannya Anas yang sukses tersasar beberapa kilometer. Masuk hutan, telusur dan lintas sungai (kalo gak salah hitung melintasi sungai sekitar 15 kali), mendaki bukit, berjalan di ladang, ngaso di gubuk dan chit chat dengan turis wisman yang bertujuan sama mewarnai perjalanan hari itu.



Waktu tempuh trekking 6 jam pun terlampaui sudah dan tiba di air terjun Haratai. Wuiihhhh...dah rame orang euy..rada-rada susah nyari spot yang bagus. Rasa lelah...capek..laper hilang dah... 1 jam berada di Haratai untuk menikmati suasana di air terjun ini. Indah buanget (walo gak seindah air terjun Matabuntu).


Yup...sudah saat nya kembali ke Loksado. Gak mungkin lagi rasanya berjalan kaki, akhirnya diputuskan untuk naik ojek aja. Karena agak sedikit ngeri dengan medannya, aku dan mbak Ririn memutuskan untuk berjalan kaki dulu ke desa terdekat (sekitar 10 menit dari air terjun) baru naik ojek (Rate Rp 25.000 / ojek). Adrenalinnya hampir sama dengan bamboo rafting. Harus percaya dengan ojeknya, karena gitu gak seirama bisa-bisa jatuh dah. Dengan ojek waktu tempuh yang diperlukan sekitar 20 menitan. Tiba di Loksado langsung menuju warung makan untuk mengisi perut yang sudah kelaperan. Jam 5.15 sore kami pun meninggal kan Loksado menuju Banjarmasin. Sampai ketemu lagi LOKSADO. Tepat jam 10 malam tiba di Lontong Orari. Sebenarnya mata ini sudah sangat berat untuk di buka. Apalagi posisi duduk ku sudah amat sangat nyaman. Tapi demi kebersamaan dan wisata kuliner yang tidak boleh terlewatkan, kupaksakan juga untuk membuka mata ini. Menu yang kucoba Nasi Kuningnya. Itu pun bagi dua dengan Opi. Selesai makan, menuju hotel Perdana untuk beristirahat.


29 November 2009.
Hari terakhir ..dan sekali lagi harus bangun jam 4 pagi untuk antri mandi (walo gak semua mandi) karena akan menuju pasar Terapung di Lok Baintan. Kami bergabung dengan rekan-rekan dari Surabaya (walo beda kapal). Jam 5.15 berjalan menuju dermaga di mana Klotok sewaan (rate:Rp 180 ribu) sudah menanti.


Klotoknya bisa mengangkut sampai 30 penumpang. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk tiba di Lok Baintan. Dalam perjalanan, sudah banyak penduduk yang beraktifitas.


Mata yang mulai meredup, segar kembali begitu tiba di Lok Baintan. Penjual sudah siap dengan barang dagangannya di kapal masing-masing. Jadi teringat dengan masa kecil dulu, ikut pasar Subuh di tepi Danau Matano bersama ortu... Sistem jual beli antar pedagang dengan barter..kalo dengan pembeli tawar menawar.



Puas menikmati pasar terapung, perjalanan dilanjutkan ke Soto Banjar Pak Amat... wuiiihhh...rame buanget... jam sudah menunjukkan jam 8.30 pagi...Soto Banjar dengan lontong atau nasi (Rp 12.000/porsi) pun dihidangkan bersama teh tawar panas ditambah sate ayamnya (Rp 10.000/porsi)...hmmmm...so yummi lah... pas banget



Dari Soto Banjar lanjut ke pembuatan kain Sasirangan. Tapi karena tokonya tutup, akhirnya menyerbu pedagang durian di perempatan Jalan Pemuda dan foto-foto di gapura Sasirangan dan Jembatan Jl. Pemuda. Sayangnya tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Jembatan Barito dan pusat oleh2 Banjarmasin, karena waktu sudah semakin siang dan pesawat yang akan membawaku pulang akan berangkat 2 jam lagi. Waktu nya berpisah dengan teman-teman baru yang asik...gila..narsis abis..baik hati...pokoke OKEH BANGET Dah.. senang bisa bertemu dengan kalian semua...thanx berat buat Anas dan Cila yang udah repot2, Pak Amat & Zainal yang sudah menerima kami selama di Loksado, rekan2 dari Banjarmasin: Ipin, Nenny, Pipit, Bekti, Layli (maaf ada yang saya lupa namanya), teman-teman dari Jakarta : Lily G, Opi, Jessica, Connie, Dina, Tommy, Linda, Agus, Mbak Sita, Mbak Lis, Rio"Handsome", Juliet, Luki dan yang terakhir Yani dari Balikpapan..sampai ketemu lagi di trip selanjutnya. Kalau ke Makassar kabar-kabari ya :).


Total Budget + Rp 1,8 Juta (include : tiket pesawat + akomodasi + airport tax + rafting + makan)